
Umat Islam di Tengah Perang Pemikiran
Umat Nabi Muhammad SAW merupakan umat akhir zaman. Dikatakan demikian karena memang Muhammad SAW merupakan Nabi sekaligus Rasul terakhir di muka bumi ini. Bukan tanpa alasan, sebelum wafat Beliau justru mengkhawatirkan nasib umatnya kelak. Sekarang, terbuktilah apa yang sempat merisaukan Beliau. Peradaban umat Islam yang dahulu gilang gemilang laksana kilauan istana emas ditimpa cahaya sang surya, kini laksana lampu petromak yang seolah menangis kesakitan karena memaksakan diri untuk terus menjaga agar nyalanya tak padam. Akan tetapi, dari nyala yang sedikit itulah nantinya akan menjadi modal untuk berkembang perlahan membentuk kumpulan cahaya yang pada saatnya dapat meletup dan menerangi seantero bumi.
Umat Islam di akhir zaman, hendaklah memiliki beragam keterampilan agar tak tergerus roda pergerakan penghancuran mental dan spiritual. Memang, pada zaman dahulu umat Islam amat sulit bila hendak dijajah secara fisik karena banyak diantara mereka yang tak gentar mempertaruhkan nyawa dengan suatu keyakinan syurga balasannya. Bermodalkan semangat yang membumbung semesta serta kekuatan keimanan mereka terus setia berjuang. Tua, muda, lelaki, perempuan, kaya, miskin, semua berada dalam satu perjuangan1).
Namun, musuh Islam pun tak kalah cerdik. Perang pemikiran (ghozwul fikri) merupakan serangan budaya dan pemikiran yang dilancarkan oleh Zionis2) untuk memerangi umat Islam, mulai dari segi makanan, kesenangan, film, gaya hidup maupun berbusana dan telah cukup memorakporandakan kekuatan mental dan spiritual umat muslim.
Mall dan Plaza telah menjadi tempat berjamaah para muda-mudi dan menjadi tempat singgah paling digemari tatkala menjelang Idul Fitri. Aneka gerai rambut dan gaya lenggok sang wanita telah menghiasi keseharian turut menemani mimpi sang pria di tengah gelap malam. Anak usia SD telah mengenal pacaran dan perzinahan dan anak usia SMP begitu semangat untuk pergi tawuran3).
Di tengah peperangan ini, masih ada para generasi Sholahudin al-Ayyubi4) maupun al-Khansa5), yang laksana butiran mutiara di tengah lautan. Namun, secara perlahan tetapi pasti mereka kemudian tersusun laksana potongan puzzle guna membangun peradaban Islam kembali6). Memang masih segelintir, karena yang dominan tengah terbuai dengan ranjau dunia. Sebuah jebakan telak yang terbungkus dan tersembunyi rapi dalam kelestarian nafsu duniawi.
Teknologi sebagai Pengantar pada Gerbang Kemakmuran dan Kehancuran
Benarkah kemajuan teknologi dapat mengantarkan kita pada gerbang kemakmuran dan kesejahteraan? Tentu akan menimbulkan banyak jawaban dari berbagai sudut pandang terkait pertanyaan itu. Pada suatu acara Diskusi Kepemimpinan Generasi 21 di salah satu stasiun TV swasta, ada yang berpendapat bahwa teknologi justru membawa kita pada kemiskinan. Padahal, kemajuan teknologi sebenarnya dapat membawa banyak kebaikan bila disikapi dengan bijak.
Penguasaan terhadap teknologi dapat memajukan suatu negara, dimana hal ini akan berimplikasi pada sektor ekonomi serta politik bagi negara tersebut di mata internasional. Sebagai contoh, Singapura mengimpor karet dari Indonesia untuk kemudian diolah dan dijual lagi dalam bentuk sendal jepit ke Indonesia dengan harga berlipat ganda dibanding harga karet itu sendiri. Indonesia sebagai negara yang menghasilkan karet justru malah memproduksi para tenaga kuli untuk mengumpulkan bahan baku karet tersebut, sementara Singapura, sang pemilik teknologilah yang terbang bersama kemakmuran di tangan7).
Benarkah di tengah era majunya teknologi ini semua negara telah merasakan kedamaian dan kemerdekaan? Ironis memang, bila kita melihat situasi di Palestina. Saat di negeri zamrud khatulistiwa ini kita masih dapat menikmati harumnya mawar, melati dan kenanga, disana justru tercium aroma debu, mesiu dan darah. Sungguh pemandangan biasa bila disana kita mendapati seorang anak kecil “bersenjatakan” ketapel dan batu tengah berhadapan dengan tank baja yang dapat meluluhlantakkan bangunan8).
Amatlah wajar, seiring berkembangnya teknologi industri, terancang pula persenjataan yang kian canggih, praktis, dan efeknya jauh lebih ngeri. Bila dulu busur dan panah digunakan untuk berperang, kini moncong senapan akan dengan sigapnya memuntahkan peluru dengan daya lebih mematikan.
Perkembangan Teknologi Informasi dan Hadirnya Internet
Abad ke-20, selain menjadi awal dari millenium baru, juga membawa banyak perubahan bagi kehidupan manusia. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar di balik perubahan itu adalah Teknologi Informasi (TI). Dengan ditemukannya teknologi yang kian hari kian canggih dan mumpuni, maka apa yang dulu seolah hanya utopia9) belaka kini menjadi realita yang tak dapat dipungkiri.
Purbo (2001) mengatakan, Teknologi Informasi (TI) merupakan alat bantu yang sangat efektif bagi seseorang, sebuah institusi atau sebuah negara – jika mereka bertumpu pada kekuatan otaknya dan bukan pada kekuasaan, jabatan, kekayaan, dan kekuatan otot semata. Dengan kurang dari 5% rakyat berpendidikan tinggi, sulit bangsa kita untuk menang berkompetisi di era globalisasi yang berbasis informasi dan pengetahuan; walaupun dibantu oleh komputer secanggih apapun.
Teknologi Informasi (TI) yang cukup membawa banyak pengaruh bagi peradaban umat manusia, yaitu apa yang kita kenal dengan istilah internet10). Internet ibarat sebuah jendela dunia, karena hanya dengan berada di depan layar monitor saja seseorang sudah dapat mengakses informasi tanpa batas dari ujung Barat ke Timur dan Utara ke Selatan.
Rogers (1995) dalam Severin dan Tankard (2008) mengatakan bahwa inovasi-inovasi interaktif, atau inovasi yang menawarkan komunikasi dua-arah, dapat memiliki proses penerimaan yang dipercepat karena mereka menjangkau massa pengguna yang kritis secara lebih cepat. Internet memungkinkan hampir semua orang di belahan dunia mana pun untuk saling berkomunikasi dengan cepat dan mudah. Fitur Internet paling populer adalah e-mail, sebuah fitur yang dipakai oleh para pengguna Internet untuk bertukar pesan dengan orang lain yang memiliki alamat e-mail, dan world wide web (www), sebuah sistem situs komputer yang sangat luas yang dapat dikunjungi oleh siapa saja. Pada dasarnya, ada beberapa alasan mengapa seseorang mengunjungi situs online dan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel tersebut telah dapat menceritakan banyak hal mengenai latar belakang seseorang menggunakan Internet. Dapat dikatakan bahwa teknologi yang satu ini bagai pelepas dahaga akan pengetahuan dari manusia yang notabene makhluk Tuhan dengan keterbatasan ilmu namun memiliki keingintahuan yang tinggi. Dan rasa "haus" itu akan terlegakan ketika suatu informasi yang ia butuhkan dapat diperoleh dalam waktu sekejap dan dengan mudah.
Di tahun 2009 ini, Internet seolah telah menjadi sesuatu yang membumi baik di kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua. Sekolah-sekolah tak hanya mengandalkan ilmu sang guru, papan tulis, maupun perpustakaan saja, namun telah diperlengkapi dengan unit komputer dan yang lebih maju lagi bahkan telah dipersiapkan akses Internet. Bahkan membuat Blog11) maupun akun Facebook12) telah menjadi salah satu tugas wajib di bangku SMA.
Peran Teknologi Informasi (TI) dalam Perkembangan Dakwah Islam
Kehadiran Teknologi Informasi (TI) memiliki arti penting bagi perkembangan dakwah Islam di muka bumi ini. Dia dapat menjadi penghubung antar manusia yang terpisahkan oleh geografis. Dia juga merupakan ladang dimana aneka ragam ilmu bertaburan dengan bebasnya dan ketika ilmu yang satu belum habis untuk dipanen akan tumbuh berkembang lagi ilmu yang lain.
Karena teknologi inilah mata dunia pun terbuka akan penjajahan yang terjadi di Palestina selama lebih dari 50 tahun terakhir ini. Karena teknologi inilah mata dunia pun terbuka akan hakekat sesungguhnya dari ajaran Islam yang penuh dengan kedamaian dan jauh dari tindak kekerasan. Karena teknologi ini pulalah umat Islam di seluruh dunia yang walaupun berbeda tanah tempat berpijak dapat bersatu dan menghimpun kekuatan.
Beragam pemikiran, fikih, diskusi, maupun pergerakan mengalir dengan indahnya di dunia maya laksana sungai jernih yang mengalir dengan bunga warna-warni turut hanyut menyertainya. Berseling keharuman menawan, membawa sejuta umat menuju pencerdasan global akan nilai keislaman.
Perjuangan dakwah terus berlanjut dan berkembang di dunia maya. Secara riilnya dapat kita jumpai pada situs, grup, maupun forum yang bernafaskan Islam. Situs-situs yang bernafaskan Islam antara lain, Islam, Kisah Islam, Perpustakaan Islam, Era Muslim, Info Palestina, Pengusaha Muslim, Media Dakwah, Dakwatuna, Moslem T-Shirt, Dudung, dsb.
Facebook yang didirikan oleh seorang anggota dari Alpha Epsilon Pi13) justru menjadi ladang dakwah tersendiri. Di situs jejaring sosial yang digunakan oleh 11,7 juta orang Indonesia ini (data pada November 2009), aneka grup bertemakan Islam bertaburan dengan ribuan pengikutnya. Sebut saja grup ”Proud Muslim”, ”Syi’arkan Islam melalui Kaos Oblong”, ”100 Juta Muslim Indonesia Menuntut Bebaskan Al-Aqsho dari penjajahan israel”, ”We the Muslim Youth can change This World”, ”Aliansi Muslim Dukung Solidaritas Jilbab Internasional”, ”Majlis Tadabbur (Muslim Visioner)”, dsb.
Mengutip pernyataan dari artikel berjudul "Saat Teknologi Dijadikan Ruang Informasi" pada Koran Jakarta edisi Kamis, 19 November 2009, gerakan dukung-mendukung via Internet dinilai efektif membentuk opini publik. Kunci sukses memengaruhi orang lain di dunia virtual adalah dengan mendapatkan kepercayaan orang lain. Oleh karena itu, gerakan sosial online yang jumlah anggotanya membengkak adalah grup virtual yang mampu mengusung isu kepentingan publik.
Ditengah maraknya kepopuleran situs jejaring sosial, kini telah hadir situs serupa namun khusus muslim (walau tetap terbuka untuk umum) yang siap menandingi Facebook, yaitu Muslimix dan Pencerahan Hati. Diharapkan dapat memperlancar roda dakwah dan menyambung kembali silaturrahim antar umat muslim di seluruh dunia, sekaligus pembuktian bahwa umat Islam telah mulai bangkit laksana raksasa yang selama ini tertidur yang kemudian membuka matanya secara perlahan.
Menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur
Hanifan berpendapat bahwa dakwah itu tak harus di masjid, dakwah pun tak harus selalu menjelaskan mengenai kandungan ayat di dalam Al-Qur’an, juga tak harus menggunakan surban. Dakwah itu dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sebagaimana Rasulullah SAW telah menegaskan, ”Sampaikanlah, walau hanya satu ayat”. Oleh karena itu, tiap orang sebenarnya dihimbau untuk menyampaikan ilmunya walau sesedikit apapun ilmu yang ia miliki. Justru dengan menyampaikan ilmu tersebut, orang itu akan makin bertambah dan kaya ilmunya. ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran: 110). Maka, dakwah pun dapat dilakukan di dunia maya.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” Tiga hal tersebut memang dapat melatih kedisiplinan, ketekunan, dan kegigihan dalam berjuang, terutama dalam perjuangan dakwah dimana terkenal akan jalannya yang penuh liku dan duri. Di era modern ini, sesungguhnya Teknologi Informasi (TI) dapat diibaratkan sebagai busur, ilmu sebagai anak panahnya, iman dan taqwa sebagai kekuatan otot untuk menarik anak panah tersebut guna membidik dan melepaskannya. Sementara, orang dibalik busur adalah Arsitek14) yang akan membidik targetnya dengan suatu perencanaan matang. Sang Arsitek tak hanya asal menarik anak panah lalu melesatkannya, akan tetapi ia juga membuat perhitungan akan arah dan kekuatan angin serta derajat kelengkungan dari terbangnya si anak panah tersebut terlebih dahulu.
Purbo (2001) berpendapat bahwa Teknologi Informasi (TI) seperti juga teknologi lainnya merupakan alat bantu manusia untuk mencapai tujuan. Manusia dengan kekuatan otaknya yang akan menentukan kesejahteraan bangsa ini, pendidikan menjadi kunci utamanya – bukan kekuasaan & kekuatan. Namun, alat bantu Teknologi Informasi (TI) tidak akan ada artinya kalau kualitas dan budaya SDM dibelakangnya kurang baik.
Muslim intelektual adalah mereka (umat Muslim) yang dengan aspek keilmuan dan pengaplikasiannya menjadi agen perubahan dengan membawa misi kebangkitan Islam. Siapapun orangnya dapat menjadi muslim intelektual maupun agen perubahan. Syaratnya hanya satu, yaitu kemauan.
Adanya suatu kemauan akan menimbulkan semangat dalam diri untuk mempelajari dan mendalami sesuatu. Dalam hal ini, kaitannya dengan sistem Teknologi Informasi (TI), suatu sistem yang dapat membawa umat pada kehancuran bila tak tahu cara mengendalikannya atau bila ilmu tersebut dikuasai oleh pihak yang salah, namun dapat membawa pada kebangkitan dan kejayaan bila kita punya ilmu dan mau untuk mengaplikasikannya dengan berlandaskan ketaqwaan pada-Nya, karena apalah arti ilmu pengetahuan tanpa taqwa dan iman.
Bukankah seorang muslim hendaknya senantiasa terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu? Binalah dan perkayalah diri dengan aneka ilmu ”..niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S.Al-Mujaadilah:11). Sebagaimana dalam sebuah hadist "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan (orang tuanya)." (HR.Bukhari & Muslim).
Dalam salah satu syairnya, Kahlil Gibran mengatakan, “Hidup ini seperti cakrawala.. Saat kita maju ke depan.. Ufuk berkembang tanpa batas.. Ilmu seperti bayangan tubuh kita di depan matahari.. Sewaktu kita kejar, ia lari.”15)
Maka, seseorang yang menguasai Teknologi Informasi (TI), ilmu-ilmu yang bermanfaat, serta memiliki keimanan dan ketaqwaan pada-Nya, tentulah dapat menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur yang handal.
Dengan menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur, tinta emas akan tergores dalam sejarah peradaban. Tercatatlah sepenggal kisah penuh kasih tentang masyarakat berilmu yang hendak meninggikan Islam dan mengembalikan kejayaannya.
Dengan menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur, nyanyian lagu perjuangan akan berdendang riang di hati dan menyemangati hari-hari. Sepenuh nada dan irama melantunkan bait demi bait dengan olah suara nurani.
Dengan menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur, seseorang akan turut andil dalam angin perubahan ini baik secara aktif maupun pasif. Diamnya pun bagai emas karena buah karyanya telah dapat dinikmati dunia. Berjalannya dia akan membuat orang terpana. Berlarinya dia akan mendatangkan para Arsitek Dibalik Busur yang baru.
Dialah, Sang Arsitek Dibalik Busur, yang akan melumpuhkan lawan dengan kelenturan "busur", ketajaman "mata panah" yang terasah, kekuatan "otot tangan", ketenangan hati, dan kecerdasan pikiran.
Dialah, Sang Arsitek Dibalik Busur, pemegang "kunci kemenangan" yang akan membawa "angin perubahan" menuju terwujudnya "mimpi indah" dari kebangkitan Islam dan menebarkan cahaya benderang ke segala penjuru mata angin.
Dialah, Sang Arsitek Dibalik Busur, yang kehidupannya ibaratnya matahari. Terbenam di satu wilayah untuk terbit di wilayah lainnya. Dia terus bersinar dan hidup untuk selamanya16).
Andakah Sang Arsitek Dibalik Busur itu?
Referensi
Umat Nabi Muhammad SAW merupakan umat akhir zaman. Dikatakan demikian karena memang Muhammad SAW merupakan Nabi sekaligus Rasul terakhir di muka bumi ini. Bukan tanpa alasan, sebelum wafat Beliau justru mengkhawatirkan nasib umatnya kelak. Sekarang, terbuktilah apa yang sempat merisaukan Beliau. Peradaban umat Islam yang dahulu gilang gemilang laksana kilauan istana emas ditimpa cahaya sang surya, kini laksana lampu petromak yang seolah menangis kesakitan karena memaksakan diri untuk terus menjaga agar nyalanya tak padam. Akan tetapi, dari nyala yang sedikit itulah nantinya akan menjadi modal untuk berkembang perlahan membentuk kumpulan cahaya yang pada saatnya dapat meletup dan menerangi seantero bumi.
Umat Islam di akhir zaman, hendaklah memiliki beragam keterampilan agar tak tergerus roda pergerakan penghancuran mental dan spiritual. Memang, pada zaman dahulu umat Islam amat sulit bila hendak dijajah secara fisik karena banyak diantara mereka yang tak gentar mempertaruhkan nyawa dengan suatu keyakinan syurga balasannya. Bermodalkan semangat yang membumbung semesta serta kekuatan keimanan mereka terus setia berjuang. Tua, muda, lelaki, perempuan, kaya, miskin, semua berada dalam satu perjuangan1).
Namun, musuh Islam pun tak kalah cerdik. Perang pemikiran (ghozwul fikri) merupakan serangan budaya dan pemikiran yang dilancarkan oleh Zionis2) untuk memerangi umat Islam, mulai dari segi makanan, kesenangan, film, gaya hidup maupun berbusana dan telah cukup memorakporandakan kekuatan mental dan spiritual umat muslim.
Mall dan Plaza telah menjadi tempat berjamaah para muda-mudi dan menjadi tempat singgah paling digemari tatkala menjelang Idul Fitri. Aneka gerai rambut dan gaya lenggok sang wanita telah menghiasi keseharian turut menemani mimpi sang pria di tengah gelap malam. Anak usia SD telah mengenal pacaran dan perzinahan dan anak usia SMP begitu semangat untuk pergi tawuran3).
Di tengah peperangan ini, masih ada para generasi Sholahudin al-Ayyubi4) maupun al-Khansa5), yang laksana butiran mutiara di tengah lautan. Namun, secara perlahan tetapi pasti mereka kemudian tersusun laksana potongan puzzle guna membangun peradaban Islam kembali6). Memang masih segelintir, karena yang dominan tengah terbuai dengan ranjau dunia. Sebuah jebakan telak yang terbungkus dan tersembunyi rapi dalam kelestarian nafsu duniawi.
Teknologi sebagai Pengantar pada Gerbang Kemakmuran dan Kehancuran
Benarkah kemajuan teknologi dapat mengantarkan kita pada gerbang kemakmuran dan kesejahteraan? Tentu akan menimbulkan banyak jawaban dari berbagai sudut pandang terkait pertanyaan itu. Pada suatu acara Diskusi Kepemimpinan Generasi 21 di salah satu stasiun TV swasta, ada yang berpendapat bahwa teknologi justru membawa kita pada kemiskinan. Padahal, kemajuan teknologi sebenarnya dapat membawa banyak kebaikan bila disikapi dengan bijak.
Penguasaan terhadap teknologi dapat memajukan suatu negara, dimana hal ini akan berimplikasi pada sektor ekonomi serta politik bagi negara tersebut di mata internasional. Sebagai contoh, Singapura mengimpor karet dari Indonesia untuk kemudian diolah dan dijual lagi dalam bentuk sendal jepit ke Indonesia dengan harga berlipat ganda dibanding harga karet itu sendiri. Indonesia sebagai negara yang menghasilkan karet justru malah memproduksi para tenaga kuli untuk mengumpulkan bahan baku karet tersebut, sementara Singapura, sang pemilik teknologilah yang terbang bersama kemakmuran di tangan7).
Benarkah di tengah era majunya teknologi ini semua negara telah merasakan kedamaian dan kemerdekaan? Ironis memang, bila kita melihat situasi di Palestina. Saat di negeri zamrud khatulistiwa ini kita masih dapat menikmati harumnya mawar, melati dan kenanga, disana justru tercium aroma debu, mesiu dan darah. Sungguh pemandangan biasa bila disana kita mendapati seorang anak kecil “bersenjatakan” ketapel dan batu tengah berhadapan dengan tank baja yang dapat meluluhlantakkan bangunan8).
Amatlah wajar, seiring berkembangnya teknologi industri, terancang pula persenjataan yang kian canggih, praktis, dan efeknya jauh lebih ngeri. Bila dulu busur dan panah digunakan untuk berperang, kini moncong senapan akan dengan sigapnya memuntahkan peluru dengan daya lebih mematikan.
Perkembangan Teknologi Informasi dan Hadirnya Internet
Abad ke-20, selain menjadi awal dari millenium baru, juga membawa banyak perubahan bagi kehidupan manusia. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar di balik perubahan itu adalah Teknologi Informasi (TI). Dengan ditemukannya teknologi yang kian hari kian canggih dan mumpuni, maka apa yang dulu seolah hanya utopia9) belaka kini menjadi realita yang tak dapat dipungkiri.
Purbo (2001) mengatakan, Teknologi Informasi (TI) merupakan alat bantu yang sangat efektif bagi seseorang, sebuah institusi atau sebuah negara – jika mereka bertumpu pada kekuatan otaknya dan bukan pada kekuasaan, jabatan, kekayaan, dan kekuatan otot semata. Dengan kurang dari 5% rakyat berpendidikan tinggi, sulit bangsa kita untuk menang berkompetisi di era globalisasi yang berbasis informasi dan pengetahuan; walaupun dibantu oleh komputer secanggih apapun.
Teknologi Informasi (TI) yang cukup membawa banyak pengaruh bagi peradaban umat manusia, yaitu apa yang kita kenal dengan istilah internet10). Internet ibarat sebuah jendela dunia, karena hanya dengan berada di depan layar monitor saja seseorang sudah dapat mengakses informasi tanpa batas dari ujung Barat ke Timur dan Utara ke Selatan.
Rogers (1995) dalam Severin dan Tankard (2008) mengatakan bahwa inovasi-inovasi interaktif, atau inovasi yang menawarkan komunikasi dua-arah, dapat memiliki proses penerimaan yang dipercepat karena mereka menjangkau massa pengguna yang kritis secara lebih cepat. Internet memungkinkan hampir semua orang di belahan dunia mana pun untuk saling berkomunikasi dengan cepat dan mudah. Fitur Internet paling populer adalah e-mail, sebuah fitur yang dipakai oleh para pengguna Internet untuk bertukar pesan dengan orang lain yang memiliki alamat e-mail, dan world wide web (www), sebuah sistem situs komputer yang sangat luas yang dapat dikunjungi oleh siapa saja. Pada dasarnya, ada beberapa alasan mengapa seseorang mengunjungi situs online dan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel tersebut telah dapat menceritakan banyak hal mengenai latar belakang seseorang menggunakan Internet. Dapat dikatakan bahwa teknologi yang satu ini bagai pelepas dahaga akan pengetahuan dari manusia yang notabene makhluk Tuhan dengan keterbatasan ilmu namun memiliki keingintahuan yang tinggi. Dan rasa "haus" itu akan terlegakan ketika suatu informasi yang ia butuhkan dapat diperoleh dalam waktu sekejap dan dengan mudah.
Di tahun 2009 ini, Internet seolah telah menjadi sesuatu yang membumi baik di kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua. Sekolah-sekolah tak hanya mengandalkan ilmu sang guru, papan tulis, maupun perpustakaan saja, namun telah diperlengkapi dengan unit komputer dan yang lebih maju lagi bahkan telah dipersiapkan akses Internet. Bahkan membuat Blog11) maupun akun Facebook12) telah menjadi salah satu tugas wajib di bangku SMA.
Peran Teknologi Informasi (TI) dalam Perkembangan Dakwah Islam
Kehadiran Teknologi Informasi (TI) memiliki arti penting bagi perkembangan dakwah Islam di muka bumi ini. Dia dapat menjadi penghubung antar manusia yang terpisahkan oleh geografis. Dia juga merupakan ladang dimana aneka ragam ilmu bertaburan dengan bebasnya dan ketika ilmu yang satu belum habis untuk dipanen akan tumbuh berkembang lagi ilmu yang lain.
Karena teknologi inilah mata dunia pun terbuka akan penjajahan yang terjadi di Palestina selama lebih dari 50 tahun terakhir ini. Karena teknologi inilah mata dunia pun terbuka akan hakekat sesungguhnya dari ajaran Islam yang penuh dengan kedamaian dan jauh dari tindak kekerasan. Karena teknologi ini pulalah umat Islam di seluruh dunia yang walaupun berbeda tanah tempat berpijak dapat bersatu dan menghimpun kekuatan.
Beragam pemikiran, fikih, diskusi, maupun pergerakan mengalir dengan indahnya di dunia maya laksana sungai jernih yang mengalir dengan bunga warna-warni turut hanyut menyertainya. Berseling keharuman menawan, membawa sejuta umat menuju pencerdasan global akan nilai keislaman.
Perjuangan dakwah terus berlanjut dan berkembang di dunia maya. Secara riilnya dapat kita jumpai pada situs, grup, maupun forum yang bernafaskan Islam. Situs-situs yang bernafaskan Islam antara lain, Islam, Kisah Islam, Perpustakaan Islam, Era Muslim, Info Palestina, Pengusaha Muslim, Media Dakwah, Dakwatuna, Moslem T-Shirt, Dudung, dsb.
Facebook yang didirikan oleh seorang anggota dari Alpha Epsilon Pi13) justru menjadi ladang dakwah tersendiri. Di situs jejaring sosial yang digunakan oleh 11,7 juta orang Indonesia ini (data pada November 2009), aneka grup bertemakan Islam bertaburan dengan ribuan pengikutnya. Sebut saja grup ”Proud Muslim”, ”Syi’arkan Islam melalui Kaos Oblong”, ”100 Juta Muslim Indonesia Menuntut Bebaskan Al-Aqsho dari penjajahan israel”, ”We the Muslim Youth can change This World”, ”Aliansi Muslim Dukung Solidaritas Jilbab Internasional”, ”Majlis Tadabbur (Muslim Visioner)”, dsb.
Mengutip pernyataan dari artikel berjudul "Saat Teknologi Dijadikan Ruang Informasi" pada Koran Jakarta edisi Kamis, 19 November 2009, gerakan dukung-mendukung via Internet dinilai efektif membentuk opini publik. Kunci sukses memengaruhi orang lain di dunia virtual adalah dengan mendapatkan kepercayaan orang lain. Oleh karena itu, gerakan sosial online yang jumlah anggotanya membengkak adalah grup virtual yang mampu mengusung isu kepentingan publik.
Ditengah maraknya kepopuleran situs jejaring sosial, kini telah hadir situs serupa namun khusus muslim (walau tetap terbuka untuk umum) yang siap menandingi Facebook, yaitu Muslimix dan Pencerahan Hati. Diharapkan dapat memperlancar roda dakwah dan menyambung kembali silaturrahim antar umat muslim di seluruh dunia, sekaligus pembuktian bahwa umat Islam telah mulai bangkit laksana raksasa yang selama ini tertidur yang kemudian membuka matanya secara perlahan.
Menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur
Hanifan berpendapat bahwa dakwah itu tak harus di masjid, dakwah pun tak harus selalu menjelaskan mengenai kandungan ayat di dalam Al-Qur’an, juga tak harus menggunakan surban. Dakwah itu dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sebagaimana Rasulullah SAW telah menegaskan, ”Sampaikanlah, walau hanya satu ayat”. Oleh karena itu, tiap orang sebenarnya dihimbau untuk menyampaikan ilmunya walau sesedikit apapun ilmu yang ia miliki. Justru dengan menyampaikan ilmu tersebut, orang itu akan makin bertambah dan kaya ilmunya. ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran: 110). Maka, dakwah pun dapat dilakukan di dunia maya.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” Tiga hal tersebut memang dapat melatih kedisiplinan, ketekunan, dan kegigihan dalam berjuang, terutama dalam perjuangan dakwah dimana terkenal akan jalannya yang penuh liku dan duri. Di era modern ini, sesungguhnya Teknologi Informasi (TI) dapat diibaratkan sebagai busur, ilmu sebagai anak panahnya, iman dan taqwa sebagai kekuatan otot untuk menarik anak panah tersebut guna membidik dan melepaskannya. Sementara, orang dibalik busur adalah Arsitek14) yang akan membidik targetnya dengan suatu perencanaan matang. Sang Arsitek tak hanya asal menarik anak panah lalu melesatkannya, akan tetapi ia juga membuat perhitungan akan arah dan kekuatan angin serta derajat kelengkungan dari terbangnya si anak panah tersebut terlebih dahulu.
Purbo (2001) berpendapat bahwa Teknologi Informasi (TI) seperti juga teknologi lainnya merupakan alat bantu manusia untuk mencapai tujuan. Manusia dengan kekuatan otaknya yang akan menentukan kesejahteraan bangsa ini, pendidikan menjadi kunci utamanya – bukan kekuasaan & kekuatan. Namun, alat bantu Teknologi Informasi (TI) tidak akan ada artinya kalau kualitas dan budaya SDM dibelakangnya kurang baik.
Muslim intelektual adalah mereka (umat Muslim) yang dengan aspek keilmuan dan pengaplikasiannya menjadi agen perubahan dengan membawa misi kebangkitan Islam. Siapapun orangnya dapat menjadi muslim intelektual maupun agen perubahan. Syaratnya hanya satu, yaitu kemauan.
Adanya suatu kemauan akan menimbulkan semangat dalam diri untuk mempelajari dan mendalami sesuatu. Dalam hal ini, kaitannya dengan sistem Teknologi Informasi (TI), suatu sistem yang dapat membawa umat pada kehancuran bila tak tahu cara mengendalikannya atau bila ilmu tersebut dikuasai oleh pihak yang salah, namun dapat membawa pada kebangkitan dan kejayaan bila kita punya ilmu dan mau untuk mengaplikasikannya dengan berlandaskan ketaqwaan pada-Nya, karena apalah arti ilmu pengetahuan tanpa taqwa dan iman.
Bukankah seorang muslim hendaknya senantiasa terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu? Binalah dan perkayalah diri dengan aneka ilmu ”..niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S.Al-Mujaadilah:11). Sebagaimana dalam sebuah hadist "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan (orang tuanya)." (HR.Bukhari & Muslim).
Dalam salah satu syairnya, Kahlil Gibran mengatakan, “Hidup ini seperti cakrawala.. Saat kita maju ke depan.. Ufuk berkembang tanpa batas.. Ilmu seperti bayangan tubuh kita di depan matahari.. Sewaktu kita kejar, ia lari.”15)
Maka, seseorang yang menguasai Teknologi Informasi (TI), ilmu-ilmu yang bermanfaat, serta memiliki keimanan dan ketaqwaan pada-Nya, tentulah dapat menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur yang handal.
Dengan menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur, tinta emas akan tergores dalam sejarah peradaban. Tercatatlah sepenggal kisah penuh kasih tentang masyarakat berilmu yang hendak meninggikan Islam dan mengembalikan kejayaannya.
Dengan menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur, nyanyian lagu perjuangan akan berdendang riang di hati dan menyemangati hari-hari. Sepenuh nada dan irama melantunkan bait demi bait dengan olah suara nurani.
Dengan menjadi Sang Arsitek Dibalik Busur, seseorang akan turut andil dalam angin perubahan ini baik secara aktif maupun pasif. Diamnya pun bagai emas karena buah karyanya telah dapat dinikmati dunia. Berjalannya dia akan membuat orang terpana. Berlarinya dia akan mendatangkan para Arsitek Dibalik Busur yang baru.
Dialah, Sang Arsitek Dibalik Busur, yang akan melumpuhkan lawan dengan kelenturan "busur", ketajaman "mata panah" yang terasah, kekuatan "otot tangan", ketenangan hati, dan kecerdasan pikiran.
Dialah, Sang Arsitek Dibalik Busur, pemegang "kunci kemenangan" yang akan membawa "angin perubahan" menuju terwujudnya "mimpi indah" dari kebangkitan Islam dan menebarkan cahaya benderang ke segala penjuru mata angin.
Dialah, Sang Arsitek Dibalik Busur, yang kehidupannya ibaratnya matahari. Terbenam di satu wilayah untuk terbit di wilayah lainnya. Dia terus bersinar dan hidup untuk selamanya16).
Andakah Sang Arsitek Dibalik Busur itu?
Referensi
Al-Qur’an dan Al-Hadits
Arif, Purwanto. 2009. Apakah Anda Mengenal Sholahuddin Al-Ayyubi. http://hambayangfakir.blogspot.com
Hanifan, Rahman. Change Now!: Jurus Duahsyat Muslim Huebat!.Book Magz. Yogyakarta.
Manarul Ilmi Online. 2008. Al Khansa, Ibunda Para Syuhada. http://masjid.its.ac.id.
Purbo, Onno W. 2001. Menang Karena Pandai Bukan Karena Berkuasa. http://www.onno.vlsm.org. Severin, Werner J. dan James W. Tankard, Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi ke-5. Kencana. Jakarta.
Sihombing, H. & K. Dwiyana. 2002. Buku Pintar: Pengetahuan Umum, Edisi ke-2. Delapratasa Publishing.
Vic. 2009. Saat Teknologi Dijadikan Ruang Informasi. Koran Jakarta Edisi Kamis 19 November 2009.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Alpha Epsilon Pi. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Arsitek. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Blog. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Facebook. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Internet. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Zionisme. http://id.wikipedia.org.
Catatan Kaki
1) Terinspirasi lagu yang dibawakan oleh Michael Heart berjudul ”We Will not Go Down” dan lagu yang dibawakan oleh Scorpions berjudul ”Wind of Change”.
2) Zionisme, seperti yang dijelaskan pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, adalah sebuah gerakan politik kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit dimana kota Yerusalem berdiri.
3) Terinspirasi nasyid yang dibawakan oleh Teater Kanvas berjudul ”Generasi yang Hilang”.
4) Sholahudin Al-Ayyubi adalah seorang Panglima perang, pemimpin besar sepanjang masa yang sangat gagah berani yang membela agama islam dan rela meninggalkan anak-istrinya untuk berjihad di jalan Allah. Namanya begitu dikenal dalam Perang Salib. Keterangan lebih lengkap dapat dibaca di blog Hamba Yang Fakir.
5) Tumadhir binti ‘Amr bin Al-Harist bin Syarid adalah nama lengkap Al-Khansa’. Ia Merupakan penyair ulung di masa jahiliyah dan salah satu dari beberapa wanita yang berasal dari kaum bani Sulaim yang menyatakan keislamannya dihadapan Rasulullah.SAW. Tidak butuh waktu lama bagi Al-Khansa’ untuk menjadi figur cemerlang dan menjadi tauladan bagi para ibu muslimah pada masa itu. Disamping keahliannya bersyair yang tiada tandingannya, ia juga menjadi muslimah yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama Allah dan kebenaran. Dikutip dari http://masjid.its.ac.id dimana tulisan tersebut mengutip dari majalah IMAIL (Informasi Manarul IMAIL) Edisi Februari 2008.
6) Terinspirasi nasyid yang dibawakan oleh Suara Persaudaraan berjudul ”Ajari Aku”.
7) Pernah dibahas pada salah satu perkuliahan Manajemen Strategi Komunikasi, Manajemen Komunikasi FISIP UI, 2009.
8) Terinspirasi oleh nasyid yang dibawakan oleh Izzatul Islam berjudul ”Negeri yang Terluka”.
9) Utopia adalah negara cita-cita yang digambarkan oleh Thomas Morus (1478-1535) dalam sebuah tulisan romannya tentang negara di kemudian hari. Dalam artian umum, Utopia berarti sebuah pengharapan yang sulit atau tidak mungkin untuk dilaksanakan atau diperoleh.
10) Pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, dijelaskan bahwa secara harfiah, Internet (kependekan dari interconnected-networking) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian.
11) Pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, dijelaskan bahwa Blog yang merupakan singkatan dari ”web log” adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum.
12) Pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, dijelaskan bahwa Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg.
13) Alpha Epsilon Pi, seperti dijelaskan di Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, adalah satu-satunya perkumpulan perguruan tinggi Yahudi internasional di Amerika Utara.
14) Tertulis pada halaman sebelum Pengantar Penerbit dari Buku Pintar: Pengetahuan Umum, Edisi ke-2.
15) Secara umum, dalam Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, Arsitek diartikan sebagai perancang skema atau rencana.
16) Kata-kata mutiara dari Muhammad Iqbal, seorang penyair, pujangga, sekaligus filsuf besar abad ke-20.
Arif, Purwanto. 2009. Apakah Anda Mengenal Sholahuddin Al-Ayyubi. http://hambayangfakir.blogspot.com
Hanifan, Rahman. Change Now!: Jurus Duahsyat Muslim Huebat!.Book Magz. Yogyakarta.
Manarul Ilmi Online. 2008. Al Khansa, Ibunda Para Syuhada. http://masjid.its.ac.id.
Purbo, Onno W. 2001. Menang Karena Pandai Bukan Karena Berkuasa. http://www.onno.vlsm.org. Severin, Werner J. dan James W. Tankard, Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi ke-5. Kencana. Jakarta.
Sihombing, H. & K. Dwiyana. 2002. Buku Pintar: Pengetahuan Umum, Edisi ke-2. Delapratasa Publishing.
Vic. 2009. Saat Teknologi Dijadikan Ruang Informasi. Koran Jakarta Edisi Kamis 19 November 2009.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Alpha Epsilon Pi. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Arsitek. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Blog. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Facebook. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Internet. http://id.wikipedia.org.
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Zionisme. http://id.wikipedia.org.
Catatan Kaki
1) Terinspirasi lagu yang dibawakan oleh Michael Heart berjudul ”We Will not Go Down” dan lagu yang dibawakan oleh Scorpions berjudul ”Wind of Change”.
2) Zionisme, seperti yang dijelaskan pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, adalah sebuah gerakan politik kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit dimana kota Yerusalem berdiri.
3) Terinspirasi nasyid yang dibawakan oleh Teater Kanvas berjudul ”Generasi yang Hilang”.
4) Sholahudin Al-Ayyubi adalah seorang Panglima perang, pemimpin besar sepanjang masa yang sangat gagah berani yang membela agama islam dan rela meninggalkan anak-istrinya untuk berjihad di jalan Allah. Namanya begitu dikenal dalam Perang Salib. Keterangan lebih lengkap dapat dibaca di blog Hamba Yang Fakir.
5) Tumadhir binti ‘Amr bin Al-Harist bin Syarid adalah nama lengkap Al-Khansa’. Ia Merupakan penyair ulung di masa jahiliyah dan salah satu dari beberapa wanita yang berasal dari kaum bani Sulaim yang menyatakan keislamannya dihadapan Rasulullah.SAW. Tidak butuh waktu lama bagi Al-Khansa’ untuk menjadi figur cemerlang dan menjadi tauladan bagi para ibu muslimah pada masa itu. Disamping keahliannya bersyair yang tiada tandingannya, ia juga menjadi muslimah yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama Allah dan kebenaran. Dikutip dari http://masjid.its.ac.id dimana tulisan tersebut mengutip dari majalah IMAIL (Informasi Manarul IMAIL) Edisi Februari 2008.
6) Terinspirasi nasyid yang dibawakan oleh Suara Persaudaraan berjudul ”Ajari Aku”.
7) Pernah dibahas pada salah satu perkuliahan Manajemen Strategi Komunikasi, Manajemen Komunikasi FISIP UI, 2009.
8) Terinspirasi oleh nasyid yang dibawakan oleh Izzatul Islam berjudul ”Negeri yang Terluka”.
9) Utopia adalah negara cita-cita yang digambarkan oleh Thomas Morus (1478-1535) dalam sebuah tulisan romannya tentang negara di kemudian hari. Dalam artian umum, Utopia berarti sebuah pengharapan yang sulit atau tidak mungkin untuk dilaksanakan atau diperoleh.
10) Pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, dijelaskan bahwa secara harfiah, Internet (kependekan dari interconnected-networking) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian.
11) Pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, dijelaskan bahwa Blog yang merupakan singkatan dari ”web log” adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum.
12) Pada Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, dijelaskan bahwa Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg.
13) Alpha Epsilon Pi, seperti dijelaskan di Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, adalah satu-satunya perkumpulan perguruan tinggi Yahudi internasional di Amerika Utara.
14) Tertulis pada halaman sebelum Pengantar Penerbit dari Buku Pintar: Pengetahuan Umum, Edisi ke-2.
15) Secara umum, dalam Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, Arsitek diartikan sebagai perancang skema atau rencana.
16) Kata-kata mutiara dari Muhammad Iqbal, seorang penyair, pujangga, sekaligus filsuf besar abad ke-20.





