Aku Berbatik, Kalau Kamu?

Guru Bahasa Jepang di sana serta teman-teman dari negara lain turut memuji keindahan baju batik Indonesia.

Logo Superman dari Masa ke Masa

...ternyata Logo Superman telah mengalami banyak perubahan dari masa ke masa.

Ketika "Dementor" Muncul...

Sahabat, tahu film Harry Potter? Dalam film tersebut, terdapat satu tokoh yang disebut Dementor. Siapakah Dementor itu?

Tips Menulis Blog Berkualitas

Thinking out of the box karena blog bukanlah sebuah karya tulis ilmiah maupun berita koran...

Trik Membuat Avatar Animasi untuk Twitter

Walaa.. this is it, sebuah file animasi karyamu sendiri ^^ tinggal di-upload ke Twitter deh.. Have fun with it.

Bismillaahirrohmaanirrohiim.. Assalamu'alaikum.. Welcome to Miftahul's Blog -To Be Like a Sun-

TO BE LIKE A SUN

Assalamu'alaikum. Salam hangat... Selamat datang di blog saya yang sederhana ini. Blog ini berisi seputar pengalaman pribadi, opini, info, karya lomba, dsb yang mungkin dapat bermanfaat. Terima kasih atas kesediaannya meluangkan waktu 'tuk singgah walau sejenak. Jangan lupa ninggalin jejak ya ^^



Tampilkan postingan dengan label karya lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya lomba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Mei 2017

Liburan, Yuk Wisata Halal Bareng Keluarga




Halo Sob, kalau pas liburan biasanya kamu lebih suka traveling, hangout ke mall bareng teman, atau malah di rumah saja? Tiap orang tentu punya kegemaran masing-masing dalam menikmati momen libur, terutama bila waktunya panjang seperti liburan lebaran atau liburan akhir tahun. Saya sendiri termasuk yang suka traveling bareng keluarga. 

Momen liburan menjadi masa yang dirindukan para Travelers untuk menemukan ‘dunia baru’ yang belum ia singgahi. Traveling ke luar negeri? Wajib diupayakan, setidaknya diniatkan mengunjungi Tanah Suci walau hanya sekali. Uang dapat dicari, bahasa dan budaya dapat dipelajari, hidup cuma sekali sementara dunia ini masih sangat luas untuk dijelajahi. 

Menjadi seorang Muslim Traveler dapat memberikan kepuasan dan kenikmatan tersendiri bagi para peminatnya. Terlebih bila kita aktif di social media, maka mengabadikan dan berbagi setiap momen lokasi makanan halal maupun tempat ibadah menjadi sesuatu yang tak boleh dilewatkan. Tak sekadar melancong ke berbagai daerah saja, namun ada hal yang selalu menjadi perhatian utama terkait prinsip Islam, yakni Wisata Halal. 


Bagi saya pribadi, ada 3 hal yang harus diperhatikan ketika mengunjungi suatu daerah, yaitu tempat ibadah, menu yang halal, dan tempat penginapan. Setiap mengunjungi suatu daerah, saya selalu mencoba menyempatkan diri untuk sholat di masjid daerah tersebut. Selain merasakan ikatan ukhuwah dengan saudara seiman, terkadang kita pun akan menjumpai arsitektur bangunan masjid yang khas dan unik. Berburu kuliner khas? Itu wajib bagi saya, namun kehalalannya tetaplah yang utama. Di daerah asing, terutama bila penduduknya berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, kita harus ekstra hati-hati dalam memilih makanan/minuman. Sementara untuk tempat penginapan, tentu akan lebih menenangkan keluarga bila kita beristirahat di tempat yang terjaga dari hal-hal negatif.

Yang namanya suatu perjalanan, tentu dapat dilakukan seorang diri maupun dalam rombongan, dengan cara backpacker maupun Tour Travel, tergantung selera dan kebutuhan. Bagi pecinta kebebasan, mungkin lebih tertarik dengan petualangan ala backpacker. Namun bepergian dengan jasa Tour Travel memiliki banyak nilai tambah. Kebetulan saya pernah merasakan menjadi seorang backpacker maupun menggunakan jasa Tour Travel untuk perjalanan ke luar negeri. 


Pada tahun 2015, saya mengajak istri dan anak untuk berpetualang menjelajah Singapore. Kami menggunakan cara backpacker untuk berkunjung ke berbagai destinasi wisata. Dengan modal kartu Tourist Pass, kami bebas berkeliling dengan Bus, MRT maupun LRT. Untungnya sih pemakaiannya unlimited selama 3 hari, karena kami sempat beberapa kali nyasar hehe.. Walau sudah ada peta halte bus, tapi kami sempat tidak tahu kalau untuk menghentikan bus harus menekan tombol merah. Alhasil yang tadinya kami mau ke Chinatown di pagi hari, justru terbawa sampai jauh dan malah berkunjung ke Little India dulu.  

Untuk penginapan, kami mendapatkan diskon untuk hotel di daerah Geylang. Dari yang tadinya 700 ribuan / malam, mendapat potongan hingga 400 ribuan / malam. Kalau mau yang lebih murah lagi bisa saja mencari hostel, ada beberapa yang rate-nya di angka 100 ribuan / malam. Namun, di hostel kita harus berbagi kamar dengan orang lain, sementara saya membawa istri dan anak. Ternyata, kami baru tahu kalau tempat penginapan kami itu berada di ‘Red District’. 

Pemilihan tempat makan sangat perlu diperhatikan. Di area Geylang ada banyak lokasi yang menyediakan menu babi dengan aroma tajam menyengat. Tapi tenang saja, di Singapore ini juga banyak tempat makan halal. 


Berburu kuliner menjadi sesuatu yang menarik di Singapore, karena ada banyak ragam. Dari yang saya perhatikan, ada 4 budaya yang berkembang pesat di sini, yakni budaya Melayu, Timur Tengah, India, dan Cina. Bila hendak mencari kuliner yang halal, akan mudah ditemui di sekitaran Little India dan Kampong Glam. Aneka kuliner halal khas Melayu, India maupun Timur Tengah siap menggoyang lidah.  


Berwisata halal ala backpacker ini kunci utamanya ada pada keberanian untuk bertanya. Jika malu bertanya, maka siap-siap tersesat di jalan hingga kehabisan waktu kunjungan atau malah salah makan sesuatu yang diharamkan.. Ooh, akan sangat disesalkan bila kita tak dapat mengefisienkan waktu perjalanan tersebut dan menyinggahi aneka destinasi menarik. Saya sendiri selama 3 hari di sana telah singgah ke Cavenagh Bridge, Merlion Park, Jubilee Bridge, Bugis Junction, City Square Mall, Serangoon Plaza, Mustafa Centre, Little India, Chinatown Singapore, Sentosa Island, S.E.A. Aquarium, Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, Masjid Sultan, Kampong Glam, dan sebelum kembali ke Indonesia sempat menjelajah Changi Airport selama beberapa jam. 

Nah, dari perjalanan tersebut telah memberikan cukup banyak pengalaman untuk traveling ke luar negeri selanjutnya, yakni ke Thailand. Tadinya kami hendak pergi saat liburan akhir tahun 2016, tapi waktu itu tiket yang tersedia hanya untuk beberapa hari setelah tahun baru 2017. Traveling kali ini saya bareng ibu, istri, anak, dan adik. Teringat perjalanan sebelumnya saat ke Singapore, tentu saya tak tega bila melihat ibu saya harus berjalan kaki jauh atau malah nyasar seperti yang kami alami kala itu. Belum lagi, saat saya coba googling, ternyata warga Thailand banyak yang tak bisa Bahasa Inggris. Hmm.. saat di Singapore saja kami agak kesulitan menemukan orang yang bisa Bahasa Inggris karena umumnya menggunakan Bahasa Cina, lha ini bagaimana kalau ngomongnya pakai Bahasa Thai?

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk memakai jasa salah satu Tour Travel. Dalam memilih Tour Travel pun sebaiknya pilih travel yang mensupport wisata halal. Ada beberapa kelebihan Tour Travel Halal ketimbang Backpacker, terutama bila kita belum berpengalaman mengunjungi destinasi tersebut:

1. Kehalalan Terjamin. Bepergian kemana pun, bagi seorang muslim tentu akan lebih tenang bila ibadah, makanan dan penginapannya terjamin. Dengan Tour Travel yang mensupport wisata halal, insyaAllah ibadah kita akan tetap lancar, makanan dan minuman terjamin kehalalannya, serta mendapat penginapan yang membawa nilai-nilai syariah.

2. Efisiensi Waktu. Dengan jumlah hari yang terbatas, tentunya kita berharap dapat mengunjungi banyak destinasi wisata sekaligus. Menggunakan Tour Travel merupakan pilihan yang tepat, karena akan disiapkan rundown destinasi wisata yang hendak dikunjungi beserta timeline-nya, sehingga tak ada waktu yang terbuang percuma.

3. Lebih Aman. Dengan menggunakan Tour Travel, kita akan lebih aman dari incaran orang jahat.

4. Menambah Informasi. Umumnya jasa Tour Travel sudah dilengkapi dengan Tour Guide. Sehingga kunjungan kita ke destinasi wisata tersebut tak semata memanjakan mata dan psikis, tapi juga akan menambah pengetahuan.

5. Menjembatani dengan Masyarakat Lokal. Tour Guide dapat menjembatani kita berkomunikasi dengan masyarakat lokal, terutama saat hendak membeli oleh-oleh khas.  

Kalau Tour Travel yang kami gunakan saat itu kebetulan bukan yang spesialis Wisata Halal, tapi alhamdulillah kami mendapat Tour Guide seorang muslimah berjilbab yang fasih berbahasa Melayu. Dia yang membantu berkomunikasi dengan masyarakat lokal maupun dengan pihak hotel yang rata-rata berbicara menggunakan Bahasa Thai. Selain itu, kami juga diberitahu mengenai budaya sana. Ternyata ada banyak hal yang cukup mirip dengan di Jakarta.


Petualangan kami di Thailand cukup menarik dan banyak destinasi wisata yang berhasil kami kunjungi. Memang Tour Guide kami seorang muslimah, namun karena Tour Travel kami bukan yang spesialis Wisata Halal sehingga destinasi wisatanya pun termasuk umum. Setidaknya untuk makanannya terjamin kehalalannya. Penasaran kami pergi kemana saja? Berikut ini video kompilasi perjalanan kami selama di Thailand:


Yup, dalam waktu 3 hari bersama Tour Travel, kami berhasil mengunjungi: Golden Buddha di Wat Traimit, mengenakan pakaian tradisional Thailand di Wat Arun dan berbelanja oleh-oleh di pasarnya, mengunjungi MBK Shopping Mall di Bangkok, mengunjungi BIG BEE, berfoto ria dengan lukisan 3D ala Art in Paradise, mengagumi keelokan aneka batu permata di Gems Gallery Pattaya, menyaksikan pertunjukan dan berinteraksi dengan gajah-gajah pintar di Nong Nooch Village, mengagumi keindahan alam sekitar Silverlake, terheran-heran dengan Sleep Museum, dan tertawa ngakak menonton NANTA Show. Keesokan harinya, karena masih ada waktu beberapa jam jelang keberangkatan pesawat kami, akhirnya kami kembali ber-backpacker ria dengan tujuan melihat langsung patung raksasa Sleeping Buddha di Wat Pho.


Tertarik juga untuk mengunjungi Thailand? Coba cek Paket Tour Wisata Halal Bangkok dari Cheria Halal Holiday, siapa tahu cocok. Dengan paket tersebut, kita dapat menikmati wisata di Thailand tanpa rasa was-was.

Pasca diresmikannya Fatwa MUI tentang Wisata Halal di awal Oktober 2016, memberi peluang usaha baru bagi industri Travel, terutama yang hendak menyasar segmen umat muslim. Hal ini juga menjadi angin segar bagi para Muslim Traveler yang hendak berpetualang ke daerah-daerah baru dengan rasa lebih aman dan tenang.

Fatwa MUI tentang Wisata Halal ini telah cukup lengkap memuat pedoman baik untuk pihak Wisatawan, Travel, maupun pengelola aneka usaha terkait destinasi wisata. Sehingga, dalam bertindak tanduk pun para wisatawan tak sembarangan. Fatwa ini juga mengatur bagaimana destinasi wisata halal itu seharusnya. Dengan adanya fatwa ini, umat muslim dapat bepergian dan menikmati liburannya dengan perasaan tenang.   



Siapa sih yang tak mendambakan berlibur ke aneka destinasi wisata nan eksotik dengan rasa tenang? Pemandangan indah terhampar luas memanjakan mata. Desir adrenalin membuat jantung berdegup kencang, mendambakan petualangan ke dunia baru. Sebuah pengalaman luar biasa yang patut jadi impian. Dan itu semuanya akan terlengkapi ketika ibadah kita tak ketinggalan, plus sajian kuliner khas daerah tujuan siap tersaji di hadapan. 


Dapatkah Sobat membayangkan, aneka makanan dan minuman asing tersaji di depan mata. Aromanya memikat tajam hingga membuat lidah seolah langsung mengecap rasanya. Penampilannya menarik dan instagramable banget sampai-sampai kita sibuk jepret sana-sini dari segala angle. Tapi, apakah makanan dan minuman tersebut aman dikonsumsi oleh seorang muslim?

Bila Sobat ingin berpetualang ala Muslim Traveler dan menjelajahi dunia, Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia hadir sebagai solusinya. Momen liburan lebaran atau liburan akhir tahun nanti sudah punya rencana mau kemana? Yuk, ajak keluarga untuk berwisata halal. Bisa coba cek beberapa paket dari Cheria Halal Holiday berikut:




Kamis, 04 Februari 2016

Ayo, Gerakkan 'Mau Bertanya' Sebagai Wujud Aktif Membangun Negeri

"Malu bertanya, sesat di jalan. Banyak nanya? malu-maluiiin..."

Ungkapan tersebut yang merupakan pelesetan dari suatu peribahasa nampaknya tak asing di telinga aku, kamu, dia, mereka (sebut saja: kita semua). Sebenarnya tak ada yang salah dengan bertanya. Yang salah itu, kalau sudah malu bertanya, eh malah nyasar pula di jalan (terus tetap gengsi ngakuin kalau kesasar).


Malu Bertanya vs Mau Bertanya

Saya itu aslinya orang yang pendiam dan pemalu. Bisa dibayangkan, dengan pribadi yang seperti itu, rasanya wajar bila saya merasa malu bertanya, apalagi ke orang yang belum dikenal.. plus pakai bahasa Inggris pula (wow). Namun, sebuah pengalaman mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang mau bertanya, apapun kondisinya.

November tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Negeri Merlion. Bukan dengan travel, tapi lebih ke backpacker, karena saya ingin mencari pengalaman berpetualang di negeri tetangga dengan lebih leluasa.

Backpacker ke Singapore pada November 2015

Haha... seorang pendiam dan pemalu mencoba untuk backpacker, apa jadinya? Tentunya HARUS MAU BERTANYA. Apalagi, sebagai seorang muslim, saya tak bisa sembarang icip makanan.

Perpaduan budaya Melayu, Cina dan Arab menjadikan Singapore sebagai kawasan yang kaya akan kuliner. Namun, tak semua jenis makanan boleh dikonsumsi oleh seorang muslim. Itu sebabnya, setiap hendak menggoyang lidah dengan aneka kuliner khas tersebut, saya harus mau bertanya tentang kehalalannya.

Tak hanya urusan makanan saja, tapi sebagai seorang backpacker newbie yang baru pertama kali ke luar negeri, saya pun harus mau bertanya pada orang di jalan mengenai arah, lokasi, dsb. Di tempat baru, tanpa pengalaman, dan uang pas-pasan, jika malu bertanya yang ada ya sesat di jalan, nyasar, bahkan mungkin ga akan pulang-pulang (hiiy...).


Generasi yang Mau Bertanya

Ilustrasi Peran Media Sosial dalam Kehidupan Manusia (Sumber: wronghands1.wordpress.com)

Dengan makin berkembangnya zaman, terjadi pula perubahan pada pola kehidupan manusia. Generasi yang hadir saat ini telah dicekoki aneka teknologi digital. Bahkan mereka mungkin tak dapat membayangkan bagaimana di era 90-an orang menggunakan Pager atau chatting di kelas dengan secarik kertas (uhuk.. sorry agak lebay).

Gen Y, generasi yang terlahir di era dunia digital, pergaulan media sosial, dan kecepatan informasi, umumnya tumbuh sebagai sosok yang kritis, dinamis dan mau bertanya. Walau tak sedikit pula yang masih malu-malu (tapi mau) bertanya, namun kecanggihan gadget/ piranti saat ini memang membuat setiap orang setidaknya mau bertanya, "bagaimana cara menghidupkannya?". Aktivitas "bertanya" mungkin tak harus dilakukan dengan tatap muka langsung, karena di "dunia datar" ini interaksinya telah terjembatani oleh media sosial.

Dahaga akan informasi dapat tertuntaskan hanya dalam hitungan detik. Tak peduli perbedaan geografis maupun waktu, media sosial telah membuat sebuah perubahan baru dalam hidup manusia. Bank Negara Indonesia (BNI) nampaknya memahami perubahan yang terjadi.


Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan

Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan. Tagline dari BNI yang merupakan pengembangan dari peribahasa "Malu Bertanya Sesat di Jalan" ini memiliki makna yang begitu dalam bagi pembangunan negeri ini. Bayangkan, hanya dengan "mau bertanya", kita dapat tumbuh berkembang menjadi insan yang lebih berkualitas. Tapi dengan "malu bertanya", bisa jadi membawa kita pada kemunduran dan ke-blunder-an. 

Jika Indonesia memiliki sosok-sosok calon pemimpin masa depan yang berkualitas, tentunya ini akan menjadi harapan baru bagi generasi mendatang untuk merasakan kehidupan yang lebih baik. Semua hal yang kita rasakan saat ini dimulai dari sebuah pertanyaan. 

"Apakah manusia dapat terbang?"

"Bagaimana cara mengirimkan suara saya ke pulau seberang?"

"Apakah kamu mau menjadi ibu dari anak-anak kita?"

"Bagaimana cara membuat screenshot di smartphone ini?"

Ada sebuah contoh mudah dalam kehidupan sehari-hari yang belum lama saya alami. Beberapa waktu lalu, saya melihat info Kompetisi Blog BNI. Waktu saya cek tata caranya, saya sempat menyangka bahwa kontennya itu tentang pengalaman kita dalam "mau bertanya". Namun karena kompetisi ini sudah menjelang deadline sehingga saya putuskan untuk bertanya langsung ke akun Twitter @BNI46 dan memperoleh jawaban yang benar (untungnya saya mau bertanya, coba saya malu bertanya, wew...)

Screenshot Interaksi dengan Akun Twitter @BNI46 yang Cukup Tanggap

Nah, dari interaksi dengan akun Twitter @BNI46 tadilah saya kemudian tahu ada fitur baru bernama #AskBNI. Saya pun mengecek Direct Message (DM) Twitter dan melihat panduan untuk memanfaatkan fitur baru ini.


Apa Itu #AskBNI?

Daritadi saya mengulas tentang "Mau Bertanya", memang apa hubungannya dengan BNI? Bagaimana hubungannya dengan #AskBNI? 


"SAYA SENANG ANDA MAU BERTANYA" 


BNI mengajak kita semua, khususnya generasi muda untuk menumbuhkan kesadaran kita agar tidak malu dan ragu bertanya di manapun, kapanpun dan tentang apapun. Untuk menumbuhkan kesadaran ini, BNI telah menyediakan suatu fitur di Twitter bernama #AskBNI yang memungkinkan kita untuk mendapatkan aneka informasi lengkap secara cepat.



Foto Peluncuran Fitur #AskBNI (Sumber: Akun Twitter @BNI46)

Seperti pada paragraf pembuka tulisan ini di atas, nampaknya BNI memahami betul kebutuhan generasi muda sekarang. Di era digital ini, siapa yang tak memiliki akun media sosial? Ibaratnya, informasi tentang seluruh dunia telah berada di genggaman jemari dan kita bawa kemana-mana dalam aktivitas sehari-hari. Media sosial ini telah menjembatani jutaan orang (atau lebih) yang mau bertanya hingga mereka mendapatkan jawabannya.

BNI pun bekerja sama dengan Twitter Indonesia guna meluncurkan fitur #AskBNI. Tujuannya untuk memudahkan para nasabah muda agar dapat dengan cepat memperoleh informasi seputar BNI. Peluncuran #AskBNI ini berlangsung pada Rabu (2/12) lalu, dan dihadiri oleh Anggoro Eko Cahyo, Direktur Consumer dan Retail BNI serta Roy Arnold Simangunsong, Country Business Head Twitter Indonesia. (Sumber Berita: Optimalkan Interaksi dengan Nasabah Muda, BNI Luncurkan Tagar #AskBNI )


Ayo, Gerakkan 'Mau Bertanya' Dimulai dari #AskBNI



Video Berita Seorang Wanita Menghancurkan Mesin ATM yang Menelan Kartu ATM-nya (Sumber: YouTube) 

O-M-G! Gara-gara kartu ATM-nya tertelan, wanita tersebut menghancurkan si mesin ATM!! Nggak gitu juga kali, tapi kalau suatu waktu kartu ATM BNI-mu tertelan mesin ATM, mending tanyakan dulu solusinya pakai fitur #AskBNI.


Bagaimana cara mengaktifkannya? Saya senang Anda mau bertanya.



Screenshot Cara Daftar #AskBNI - Bag.1

Setelah following akun Twitter @BNI46 dan memperoleh sebuah Direct Message, kamu cukup me-reply dengan format: 


#daftar #nama_lengkap #nohandphone


Contoh:

#daftar #Andi_Waluyo #62213456789


Screenshot Cara Daftar #AskBNI - Bag.2

Setelah daftar, kita akan memiliki akses untuk memanfaatkan fitur ini kapanpun dan dimanapun. Berikut ini ada sebuah ilustrasi bagaimana memanfaatkan fitur #AskBNI ketika Buku Tabungan BNI kita hilang:






Selain dapat membantu kita ketika kartu ATM tertelan mesin atau Buku Tabungan hilang, #AskBNI bisa apa lagi ya? Saya senang Anda mau bertanya.

Dengan mengirim pesan #HelpBNI, kita dapat melihat semua keyword yang dapat digunakan dalam fitur #AskBNI:



Nah, gampang banget kan! Sebagai fitur yang memang dirancang bagi segmen Gen Y, #AskBNI memiliki beberapa kelebihan:

  • Simpel: Fitur yang user friendly, memudahkan siapapun untuk menggunakannya kapanpun dan dimanapun;
  • Cepat: Begitu kita kirim pertanyaan, biasanya dalam waktu 2 detik saja sudah muncul jawabannya;
  • Tanggap: Fitur ini sangat responsif dalam memberikan tanggapan atas pertanyaan kita secara lengkap;
  • Ekonomis: Kita dapat mengaksesnya dengan memanfaatkan konektivitas internet, bahkan bisa secara gratis karena banyak WiFi gratis pula dimana-mana.

Dengan "Mau Bertanya", wawasan kita jadi bertambah luas serta arah kita pun jelas. Dengan "Mau Bertanya", kita akan memperoleh jawaban (dan tidak mati penasaran). Dengan "Mau Bertanya", kita telah berperan aktif dalam meningkatkan kualitas diri, karena kalau bukan kita yang membangun negeri ini, maka siapa lagi?

Jadi,

"Ayo, kita gerakkan 'Mau Bertanya' sebagai wujud aktif membangun Negeri"


Nah, daritadi kita ngobrol panjang lebar mengenai "Mau Bertanya" dan #AskBNI, tapi apakah kamu sudah mendukung gerakan ini dengan menjadi nasabah BNI?

Sudah Punya Tabungan BNI?




Bicara mengenai BNI, saya sendiri sudah sekitar 12 tahun menjadi nasabahnya. Dulu pertama buka rekening BNI ketika awal masuk kuliah di IPB (yang anak IPB wajib ninggalin komen!), sekitar tahun 2003. 

Saya senang menjadi nasabah BNI karena aneka prosesnya mudah dan saya juga dapat melakukan transaksi via SMS Banking. Sudah 5 tahun saya menekuni profesi yang bergelut di dunia media sosial. Dengan hadirnya fitur #AskBNI ini, jadi kian mempermudah aktivitas saya, apalagi terkait langsung dengan spesifik bidang pekerjaan saya.




Tapi itu tadi kan dari sudut pandang saya saja. Sebenarnya apa sih keuntungan menabung di BNI?



Wuih, benar kan ada banyak keuntungannya! 

- Kita bisa melakukan setoran dan  penarikan tunai secara online di seluruh Cabang BNI terdekat. 
- Setoran dan penarikannya pun bisa melalui e-channel: BNI ATM (Automatic Teller Machine), CDM (Cash Deposit Machine) yang tersebar di seluruh Indonesia!! 
- Kita sebagai nasabah juga akan memperoleh fasilitas Kartu Debit BNI, layanan e-banking melalui channel BNI ATM, BNI Phone Banking, BNI SMS Banking, BNI Internet Banking dan BNI Mobile Banking. 
- Dan pastinya, kini dengan hadirnya fitur #AskBNI, jadi memudahkan kita untuk bertanya aneka hal seputar BNI kapanpun dan dimanapun.

Itu belum cukup? Saya senang Anda mau bertanya.


BNI juga punya aneka program undian berhadiah. Yaa.. siapa tahu kamu termasuk salah satu yang beruntung.



Sekarang, kalau kamu tertarik untuk membuka Taplus (Tabungan Plus) BNI, caranya gampang ko. Kita coba cek via #AskBNI yuk:


Kalau usiamu masih berkisar 15 - 25 tahun, mending pakai Taplus Muda saja:



Jadi, ayo kita bersama-sama menjadi pribadi yang "Mau Bertanya". Kita manfaatkan juga fitur #AskBNI ini dengan sebaik-baiknya.



"Ayo, Mau Bertanya Nggak Bakal Sesat di Jalan Deh" 

Jumat, 18 Juli 2014

Murid-murid MI Itu Melihatku Seperti Seorang Artis

Mengajar? Sepertinya aku tak berbakat untuk itu. Terlebih lagi, aku bukanlah tipe orang yang pede tampil di hadapan orang banyak. Tapi mungkin, kemampuanku untuk melakukan pendekatan personal-lah yang membuat anak-anak MI itu selalu menunggu kehadiranku...

Pengalamanku ini terjadi sekitar tahun 2006. Ketika itu, aku sedang menjalani masa KKP (Kuliah Kerja Praktek) sebagai seorang mahasiswa S1 Arsitektur Lanskap di salah satu PTN di Bogor. Ya, tepat sekali! Aku memang senang mendisain, itu sebabnya aku mengambil jurusan ini.

(Aku dan kelompok KKP-ku foto bareng pemilik rumah tempat kami menginap selama KKP)

Aku memperoleh lokasi KKP di salah satu kelurahan di daerah Bogor (huhuhu... padahal aku inginnya bisa keluar provinsi, seperti kawanku yang mendapat tempat di Brebes). Singkat cerita, kelompok KKP-ku terdiri dari 6 orang yang berasal dari berbagai bidang ilmu berbeda. Masing-masing dari kami membuat praktek tersendiri. Namun karena kami satu kelompok, sehingga kami pun bahu membahu guna menyelesaikan setiap program yang kami rancang bersama.

Sebagai seorang mahasiswa Arsitektur Lanskap, aku merencakan untuk merancang taman di sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) di kelurahan tersebut, taman di kelurahan, dan taman di pekarangan rumah tempat kami menumpang tinggal. Antara sekolah, kantor kelurahan, dan pekarangan rumah, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri, lho!

Nah, salah seorang teman sekelompokku, yang juga ketua kelompok kami, membuat program untuk mengajar di MI tersebut. Lantas, kami pun berkunjung ke rumah Kepala Sekolah (yang ternyata juga pemilik MI tersebut). Sambutan hangat pun kami terima, bahkan pihak sekolah dengan senang hati mempersilakan kami untuk turut mengajar di sana. Tentunya, program praktekku juga turut disisipkan, yakni membuat taman sekolah.

Hmm.. hari pertama mengajar pun tiba. Aku mengenakan pakaian semi formal plus jaket motor. Ketua kelompok kami mengenakan kemeja dan memang terlihat sebagai sosok akademisi. Sementara, 4 orang kawan kami yang lain adalah perempuan dan salah seorang di antaranya cukup terlihat seperti berasal dari keluarga yang cukup berada.

(Beginilah gayaku berpakaian saat pertama berkenalan dengan murid di MI tersebut. Tidak terlihat seperti seorang pengajar ya? Hehe..)

Kami pun mengunjungi ruangan kelas 3 di MI tersebut. Kelima rekanku masuk duluan ke dalam kelas, sementara aku masih berdiri di luar melihat kondisi di dalam sambil dag dig dug... Saat Ketua Kelompok kami itu mencoba menerangkan sesuatu, ternyata anak-anak MI (yang masih imut-imut) itu tidak mendengarkan. Mereka malah asyik bermain-main sendiri dan tertawa. Sementara, rekan-rekanku yang perempuan juga belum berpengalaman menghadapi anak-anak seusia mereka (walau saya yakin, mereka cukup terampil jika berhadapan dengan orang dewasa). Uh-oh, kondisi ternyata di luar dugaan, kami bingung harus bagaimana menghadapi mereka.

Saat itulah, aku teringat sebuah manga (yang kemudian dijadikan drama Jepang) berjudul "Great Teacher Onizuka (GTO)". Pernah nonton? Yup, ceritanya Onizuka itu seorang mantan Ketua Geng Motor yang cukup ditakuti, walau dia sebenarnya adalah seorang gentleman yang baik hati. Onizuka dan kawan-kawannya pun lantas ingin mencari penghasilan dengan cara yang baik-baik. Salah seorang kawan gengnya justru malah menjadi polisi, dan siapa sangka ternyata Onizuka menjadi seorang guru!! Tapi yang dia ajar bukanlah murid biasa. Murid-murid tersebut terkenal dengan kebrutalan dan kenakalannya yang luar biasa di luar batas etika.

(Salah satu scene dalam GTO remake: Onizuka sedang bermain bersama para muridnya. Sumber gambar: http://tylerraiz.files.wordpress.com)

Saat itulah hadir sosok seorang guru bernama Onizuka, yang rela mengorbankan nyawanya demi murid-muridnya itu dan membimbing mereka kembali ke jalan yang benar. Di kemunculan pertamanya di kelas tersebut, ia menuliskan "GTO" di papan tulis, yang berarti "Great Teacher Onizuka".

Ups, ceritanya jadi terlalu panjang. Back to the story... Jadi, berbekal pengalamanku menonton drama tersebut, aku yakin bahwa aku dapat mengambil perhatian anak-anak itu melalui pendekatan persuasif. Di saat teman-teman sekelompok aku sudah menyerah, aku kemudian tiba-tiba masuk ke dalam kelas (dengan masih mengenakan jaket motor). Kuambil sebuah kapur, dan dengan keterampilanku menggambar, kutuliskan namaku dengan bentuk yang unik (terinspirasi dari Onizuka).

Usai menggambar, aku pun memperkenalkan diri. Para murid yang tadinya berisik dan sibuk sendiri perlahan satu per satu terdiam. Sepertinya baru kali itu mereka melihat ada guru yang menggambar bentuk namanya dengan unik untuk sekadar berkenalan. Mereka nampak terkesima (ups, agak lebay ya ceritanya :P ), bahkan beberapa anak sampai maju mendekati papan tulis untuk mengamati gambar tersebut.

Beberapa detik kemudian... riuh kicauan mereka ingin berkenalan denganku dan mendengarkan materi pelajaran. Ya, caraku menyampaikan pelajaran tidak sebagai orang yang merasa lebih tahu dari mereka, tapi aku coba menempatkan diri juga sebagai "orangtua", atau bahkan "teman" bagi mereka. Kubuat mereka merasa, bahwa aku pun ingin mengenal mereka semua, satu per satu, tak hanya diri mereka sebagai murid, tapi sebagai anak manusia.

Rupanya, kejadian itu menarik rasa ingin tahu murid-murid kelas 4 dan 5. Sebagian dari mereka ada yang mengintip ke kelas kami saat aku tengah mengajar. Dan, begitu kelas selesai dan aku keluar, rupanya diriku telah ditunggu oleh mereka. Mereka "menembak"-ku agar mau mengajar di kelas mereka juga.

Sejak saat itu, aku dkk bergantian mengajar di kelas 3, 4 dan 5. Kami tidak mengajar di kelas 6 karena mereka masuknya siang. Tapi, entah mengapa setiap kali aku yang masuk ke kelas, mereka nampak begitu antusias, bahkan tanpa segan berteriak "horee....".

Saat aku mengajar, biasanya kucoba menghidupkan suasana dengan berinteraksi dengan para murid sambil mencoba mengenal mereka. Aku pun mengambil contoh-contoh dari praktek kehidupan sehari-hari dan meminta mereka untuk berbagi cerita. Tak jarang aku mengajar sambil sesekali membuat gambar di papan tulis untuk menarik perhatian mereka.

Lucunya, beberapa murid kelas 3 ada yang sampai bermanja-manja padaku, seolah aku ini seperti kakaknya atau orangtuanya. Bahkan, aku sampai merasa jadi artis karena murid-murid di kelas itu menodongku untuk foto bareng mereka usai sekolah. Jadi, di antara mereka itu ada seorang anak perempuan yang nampak bisa mengoordinir teman-temannya. Anak itu berkata, "Sstt.. kita nanti mau foto-foto sama Pak Miftah. Tapi cuma kita-kita aja, jangan sampai kelas lain pada tau ya.."

Alhasil sepulang sekolah, mereka langsung buru-buru menutup pintu kelas dan memasang gorden untuk menutup jendela. Lalu mereka memaksaku untuk foto bareng mereka menggunakan handphone-ku. Mereka nampak senang sekali karena berhasil membuat kenang-kenangan bersamaku. Sayangnya, foto di dalam handphone tersebut tidak dapat ditransfer ke dalam PC.

Lain lagi dengan siswa kelas 5. Di kelas ini ada seorang murid cowok berambut ikal (kita sebut dia si Ikal) yang suka bandel dan tidak mau mendengarkan teman sekelompokku yang perempuan. Aku lupa entah bagaimana, tapi si Ikal ini jadi dekat denganku. Sampai suatu ketika, saat kami sekelompok baru saja habis bepergian dan kembali ke rumah kediaman, kami sungguh terkejut. Bagaimana tidak, anak-anak murid kelas 5 itu sudah menunggu kami di teras depan rumah! Rupanya si Ikal yang mengajak mereka untuk mencari kediaman kami dan main kesini tanpa terlebih dahulu memberitahukan pada kami. Sungguh suatu kejutan menyenangkan ^_^

Puncak kegiatan kami di MI tersebut adalah pembuatan taman sekolah. Aku pun berbagi ilmu kepada murid kelas 5, karena mereka yang nantinya akan membantu membuat taman ini. Aku sampaikan bagaimana cara menggali lubang, menanam tanaman sesuai polanya, mengapa tanaman tersebut yang kupilih, cara membuat pupuk alami, dsb.

Aku dkk pun membawa aneka bibit tanaman ke MI tersebut, di mana para murid sudah terlebih dahulu menyiapkan lubang berdasarkan pola yang kubuat di tanah. Sorak sorai menyambut kehadiran kami yang membawa tanaman aneka warna dan rupa itu. Kami bergembira bersama menanam aneka tanaman ini, dan mereka juga penuh suka cita akan menjaga taman tersebut. Ya, aku mencoba membuat agar mereka pun turut merasa memiliki terhadap taman sekolah ini.

Akhirnya... hari perpisahan pun tiba... Sebagian murid nampak sedih, bahkan murid dari kelas 3 tak kuasa menahan air mata. Ingin rasanya aku melihat mereka tumbuh besar dan dewasa. Terkadang, aku masih kangen untuk bertemu mereka dan berpikir apakah mereka masih ingat padaku. Setiap momen kebersamaan kami dengan para murid itu selalu terabadikan dengan kamera handphone-ku. Namun, handphone-ku kini sudah entah kemana sementara foto-foto di dalamnya tak dapat ditransfer ke media lainnya...


Rabu, 26 Juni 2013

Aspire P3, bring our hidden passion into reality

Aspire P3, sebuah hybrid ultrabook yang akan membawa kita pada pengalaman menjelajah fitur notebook masa depan. Gadget impian yang dapat membantu membawa "hidden passion" kita ke dalam kenyataan...

“How can you squander even one more day not taking advantage of the greatest shifts of our generation? How dare you settle for less when the world has made it so easy for you to be remarkable?” (Seth Godin, Guerrilla Marketing for Home-Based Businesses) 

Dekade ini, dunia telah memasuki era digital di mana geografis dan waktu tak lagi membentengi interaksi. Sebuah "dunia datar" hasil dari teknologi canggih yang kian detik kian berkembang.

Bagaimana pendapatmu bila kehidupan sosial berada dalam genggaman jemari tanganmu kemana pun kamu pergi? Yup, selamat datang di era social media! Di sini, kita bebas bersosialisasi dengan siapapun, darimana pun, kapan pun. Sebuah "jendela" yang akan mengantarkan kita pada dunia "ajaib" yang mungkin masih berada dalam anak tangga "utopia" beberapa masa silam. 

Menjadi Kepala Social Media sekaligus Redaktur Rubrik Komunitas di salah satu media online nasional, otomatis membuat "surfing" sebagai kegiatan rutinan 24/7 bagi saya. Yup, bisa dibilang nyaris tanpa batasan waktu (tapi tetap ada quality time dengan keluarga, lho). 

Aneka macam social media juga telah saya telusuri. Salah satu yang cukup sering dikunjungi yakni YouTube. Hmm.. apa di antara kamu ada yang belum pernah singgah ke YouTube?

Terkadang saya mencari inspirasi di situs pengunggah video terbesar di dunia itu. Hingga suatu hari, ada satu video yang cukup menginspirasi dan membakar kembali "hidden passion" saya, cekidot:



Hoho.. seru bukan ketika "hidden passion" kita dapat terealisasi gara-gara sebuah gadget yang oke? Video di atas menceritakan mengenai Vernon, si asisten pribadi DJ Tiesto. Ups, belum kenal DJ Tiesto? Baca deh siapa sih DJ Tiesto itu, lalu kamu bisa koprol sambil bilang, "WOW!". 

Nah, si Vernon ini pengeeen banget jadi seorang DJ populer seperti Tiesto. Tapi ko dia selalu disepelekan, bahkan tak dilirik.. Huft, memang bukan kehidupan yang mudah dijalani ketika menjadi "tokoh tak populer" di tengah "tokoh populer".

Tapi, hasrat terpendam Vernon itu dapat tersalurkan dan terangkai apik menjadi alunan remix memukau! Gadget hybrid ultrabook yang hadir ke dalam kehidupan Vernon, telah membuat jarak antara dirinya dengan gerbang impiannya makin terjangkau. Hingga akhirnya, pada situasi di mana DJ Tiesto terjebak di tengah penonton, Vernon nekat menggantikannya hanya bermodal Aspire P3!

Woww!! Riuh renyah gairah penonton justru tambah "meledak" dan "membakar" ruangan saat mendengar hentakan irama Vernon feat Aspire P3. Semua terpukau dan larut dalam gemerlapnya nuansa, tak terkecuali DJ Tiesto!

Lihatlah, bagaimana sebuah gadget mampu mengail hasrat terpendam dari seorang "Vernon" dan membawanya dari impian jadi kenyataan. Setiap orang tentu punya suatu "hidden passion" dan sebenarnya bukan mustahil untuk diwujudkan.



"Passion. It lies in all of us. Sleeping... waiting... and though unwanted, unbidden, it will stir... open its jaws and howl. It speaks to us... guides us. Passion rules us all. And we obey. What other choice do we have? Passion is the source of our finest moments. The joy of love... the clarity of hatred... the ecstasy of grief. It hurts sometimes more than we can bear. If we could live without passion, maybe we'd know some kind of peace. But we would be hollow. Empty rooms, shuttered and dank. Without passion, we'd be truly dead." (Joss Whedon)

Menjadi profesi seperti sekarang ini, bukan berarti saya tak punya "hidden passion" lagi. Justru dengan aktif di dunia social media dan komunitas, makin membuka wawasan dan merangsang saya untuk menjelajah dunia luas.

Bagi saya, ini masih baru separuh jalan menuju "hidden passion" saya itu. Mungkin saya sudah meraih pekerjaan yang cukup mengasyikkan karena mengerjakannya sambil surfing di social media, bahkan bisa dilakukan dari mana saja asalkan ada koneksi internet. Namun, saya belumlah menjadi seorang tokoh perubahan dalam lingkup yang lebih luas. 

Aktif di situs forum ternyata membawa saya terlibat pada pengembangan sebuah komunitas online. Siapa sangka, akhirnya komunitas ini dapat mengadakan kopdar (kopi darat) nasional yang menghadirkan member dari Aceh, Padang, Jakarta, Bogor, Depok, Bandung, Sukabumi, Purwokerto dan Surabaya.



Terkadang saya juga datang ke event-event tertentu dan berkenalan dengan aneka komunitas. Salah satunya yaitu event Ennichisai 2013 di Little Tokyo dan bertemu aneka komunitas cosplayer.



Sebagai Redaktur Rubrik Komunitas, tak jarang saya berkenalan dengan aneka komunitas dari luar negeri. Walau saya bukanlah anggota dari komunitas itu, tapi seolah saya turut merasakan bagaimana serunya bertemu dengan orang-orang dengan minat yang sama, terlebih di luar negeri. Disinilah hebatnya kehadiran social media seperti Facebook dan Twitter.

“By bringing together people who share interests, no matter their location or time zone, social media has the potential to transform the workplace into an environment where learning is as natural as it is powerful.” (Marcia Conner, The New Social Learning: A Guide to Transforming Organizations Through Social Media)

Yup, wawasan kinetis saya masih sebatas tanah air. Itu sebabnya, saya ingin terus mengembangkan diri lagi. Ada banyak tempat di berbagai penjuru dunia yang ingin saya singgahi, seperti:


1. Ka'bah di Mekah (gambar pinjam dari sini)



2. Mengunjungi kawan-kawan komunitas Prosveshchenie di Rusia (gambar pinjam dari sini)



3. Mengunjungi kawan-kawan komunitas Wapena di Wina, Austria (gambar pinjam dari sini)



4. Mengunjungi kawan-kawan komunitas PPI di Istanbul, Turki (gambar pinjam dari sini)



5. Mengunjungi beberapa orang kawan di Malaysia dan jalan-jalan ke Petronas Towers (gambar pinjam dari sini)



6. Mengunjungi kawan lama yang tengah tinggal di negeri Sakura (gambar pinjam dari sini)



7. Dan masih baaanyak lagi, seperti menjadi raksasa di Legoland Belanda, mengicip kuliner Thailand, merasakan sensasi romantisme ala Eiffel Tower, menjajal aneka wahana menegangkan di Universal Studios Singapore, dsb.

Saya ingin menjadi lebih dari sekadar seorang Praktisi Social Media sekaligus Blogger. Tapi juga seseorang yang berhasil menjejakkan kaki kecilnya di berbagai belahan benua, mendokumentasikan perjalanannya, membaginya, serta menginspirasi orang banyak. 

Untuk menggapainya lebih jauh, saya butuh suatu gadget yang mumpuni dan mampu menjembatani hasrat saya itu. Gadget yang mampu menginspirasi saya sebagai orang yang senantiasa dinamis dan kreatif. Bahkan, meja kerja saya sampai saya sulap jadi seperti ini:





Yup, saya butuh gadget yang mampu mengikuti mobilitas saya yang tinggi serta memancing daya kreasi saya untuk menjadi seseorang yang "out of the box". Sebuah gadget yang cocok digunakan untuk bepergian dan dapat menjadi partner saya dalam berbagi dengan orang-orang via social media seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, Blog, dsb. Sebuah gadget yang dapat digunakan untuk bersenang-senang sekaligus bekerja secara profesional. Adakah?

Hupla... Acer Aspire P3 hadir membawa "angin segar" untuk membantu mengantarkan "hidden passion" kita pada kenyataan. Karena penasaran, saya pun mencoba mencari review seputar gadget hybrid ultrabook ini.

Desain
Acer Aspire P3 hadir dengan desain yang familier dengan Acer tablet Windows 8, seperti W700 dan W510. Bagian belakang dan samping terbuat dari satu bagian dari aluminium dengan sudut-sudut yang lembut bulat. Selain itu, P3 juga memiliki desain persegi dengan dimensi perangkat 190.77 (W) x 295.4 (D) x 9.95/10.15 (H) mm.
Dalam kondisi tablet, berat Aspire P3 hanya 0,79Kg, sehingga lebih ringan dibandingkan Microsoft Surface Pro, SAMSUNG ATIV Smart PC Pro 700t, dan Acer Iconia W700. Desain yang elegan dan ringan, cocok untuk dibawa bepergian.

Tampilan
Layar sentuh 11,6 inci dengan resolusi 1366 x 768 piksel, sama seperti HP Envy x2. Namun, Aspire P3 dilengkapi dengan panel IPS sehingga layar tetap cerah, warna tetap indah dan cemerlang walau dilihat dari sudut manapun. Bahkan, memberikan viewing angle yang lebar hingga 178 derajat! 

Layar sentuh ini juga mendukung 10 point multi-touch. Betul-betul responsif dan dapat digunakan dengan 10 jari sekaligus. Cocok untuk mereka yang terbiasa menulis/mengetik cepat.

Audio
Untuk sebuah tablet, Aspire P3 memiliki kualitas audio yang di atas rata-rata. Cocok sekali untuk mereka yang gemar mendengarkan musik dan film -seperti saya-. Suara dapat terdengar tajam dan jelas karena adanya dua buah speaker di bawah perangkat ini yang bersertifikasi Dolby Home Theater V4. Benar-benar memanjakan telinga dan menghentak nadi kita, terutama bila sedang berada di tengah perjalanan!



Apalagi yang unik dari tablet ini ialah adanya aplikasi Virtual DJ! Wow, kita bisa menjajal bagaimana rasanya me-remix lagu bak seorang DJ kawakan. Saya pribadi belum pernah mencoba jadi DJ, tapi saat nge-band saya biasanya sebagai Lead Guitar, sehingga aplikasi ini nampak sangat menarik untuk dicoba.

Konektivitas
Acer Aspire P3 dilengkapi dengan Acer InviLink Nplify WiFi 802.11a/b/g/n dan Bluetooth 4.0 sehingga dapat terhubung ke perangkat penunjang lain secara nirkabel.

Keyboard
Tablet ini cukup unik karena dapat dipasangkan ke keyboard, sehingga berubah menjadi sebuah notebook. Perangkat tersebut dapat disangga ke keyboard pada sudut yang baik untuk mengetik. 
Ukuran tombol cukup besar dan enak untuk mengetik. Cocok untuk para Blogger yang suka menulis di berbagai lokasi. Di sebelah atas keyboard terdapat tombol power, dua lampu status biru dan port microUSB.

Performance
Didukung oleh 1,5 GHz Intel Core i5-3339Y generasi ketiga (bisa juga menggunakan Intel Core i3), 4GB RAM dan 120GB SSD. Satu kata: Wow! Cukup cepat untuk ukuran sebuah tablet.

Grafik
Intel HD Graphics 4000, cukup bagus untuk menonton film. Sementara untuk games, sebagai gambaran, pada pengaturan yang disarankan, kemampuan Aspire P3 bisa rata-rata 17 frame per detik dalam "World of Warcraft". Kadang saya suka memainkan aneka game untuk mengusir kebosanan sekaligus mengasah otak kanan.

Kamera
Aspire P3 memiliki dua buah kamera, di depan dan di belakang. Kamera yang menghadap ke belakang memiliki ukuran 5 MP. Bila digunakan di luar ruangan, hasilnya berwarna-warni dan cukup rinci. Kita bisa melihat setiap daun di pohon dan bilah rumput dekat kita. Sementara, bila digunakan di dalam ruangan, akan menghasilkan saturasi warna yang baik. 

Kamera yang menghadap ke depan berukuran 1 MP dan dapat merekam hingga 720P. Kamera ini dapat mengambil warna kulit kita dengan baik, dan memiliki kualitas lebih dari cukup untuk sebuah video chatting. Cocok untuk ber-skype-an ria, jarak pun tak jadi masalah untuk berinteraksi.

Fitur kamera memang akan sangat menunjang proses interaksi kita di social media. Terlebih lagi, belum lama ini Instagram merilis fitur baru di mana dapat digunakan untuk berbagi video singkat. Kini, pesan gambar yang akan kita bagi dapat menjadi lebih "hidup" lagi.

Baterai
4-cell, 4800 mAh baterai dalam P3 dapat bertahan hingga 6 jam. Dan bertahan selama 4 jam 8 menit bila menggunakan Wi-Fi. Bahkan menurut beberapa pihak yang telah mencobanya, baterainya bisa tahan sampai 4 jam 21 menit saat menggunakan Wi-Fi.

Nah, setelah mengupas sedikit mengenai Aspire P3, rasanya inilah gadget yang saya cari untuk dijadikan sebagai partner saya dalam menggapai "hidden passion". Hadir dengan teknologi notebook masa depan, menawarkan aneka fitur brilian yang siap membawa kita pada pengalaman baru, menuju terealisasinya hasrat terpendam. 

Bagi saya, dunia luas telah terbentang dan siap untuk dijelajahi. Bertemu aneka komunitas, mengicip aneka kuliner, menjajal aneka wahana, dan menjejakkan kaki di tempat-tempat baru lalu mendokumentasikan semuanya dan berbagi pada dunia. Jika saya katakan, "Aspire P3, bring our hidden passion into reality", do you agree?



Referensi:

acer.com
acerid.com
goodreads.com
laptopmag.com
miftahulfalah.blogspot.com
regis.edu
youtube.com

Terima Kasih sudah berkunjung ^^ Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya ;) Follow juga akun Twitter/Instagram @miftahoke
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service